Latest Post


SANCAnews.id – Budayawan Betawi Ridwan Saidi menyebut bahwa Habib Rizieq Shihab merupakan sosok pemimpin ideal yang ditunggu-tunggu. Bahkan, ia mengatakan Habib Rizieq adalah Satrio Piningit yang ditunggu-tunggu.

 

"Merujuk pada kebudayaan Jawa, Habib Rizieq adalah Satrio Piningit, orang uang ditunggu-tunggu," ujar Babe Saidi--sapaan akrabnya--dalam acara yang tayang di YouTube Refly Harun, dikutip pada Rabu (21/9/2022).

 

Lebih lanjut dia menjelaskan, sebelum kehadiran Habib Rizieq tidak ada tipe ideal seorang pemimpin.

 

"Sekarang sudah ada ideal type, adalah Habib Rizieq, yang ditunggu-tunggu sudah tiba," tambahnya.

 

Dia kemudian menyebutkan dalam Front Persaudaraan Islam yang dipimpin Habib Rizieq sudah memiliki berbagai program salah satunya yang bertujuan pencerdasan bangsa.

 

Penting menurut Ridwan Saidi soal pendidikan karena dia menyebut sistem pendidikan sekarang sudah tak tertolong. "Materi pendidikan sudah tak tertolong," ungkap Babe Saidi.

 

"FPI bekerja untuk seluruh bangsa, sehingga itu akan menggembirakan Habib Rizieq yang punya thesis S2 S3 tentang Pancasila," tambahnya.

 

Lebih lanjut, Ridwan Saidi mengktirisi partai politik hari ini. Dia menyebutkan bahwa tokoh partai politik sekarang hanya seorang pekerja partai yang tidak punya syarat intelektual dan etika.

 

"Sebenarnya istrilah partai politik juga tak lagi relefan, sekarang cocok sarekat pekerja politik," ungkap Riwan Saidi.

 

Sikap Habib Rizieq di Pemilu 2024 

Usai bebas bersyarat dari penjara, Habib Rizieq belum menentukan sikap politiknya dalam menghadapi Pemilu 2024.

 

Ia hanya menegaskan komitmennya yang akan tetap berjuang bersama ulama dan umat Islam untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar.

 

Rizieq menyebut tidak akan pernah takut untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar meskipun nyawa taruhannya. Menurutnya, saat ini Indonesia darurat kebohongan dan darurat kedzoliman.

 

"Bagaimana kita punya negeri di mana-mana ada kerusakan, di mana-mana ada kemungkaran, Saudara, maka kebohongan sudah membudaya dan negeri kita lagi darurat kebohongan," jelasnya dalam konferensi pers usai bebas dari penjara, Rabu (20/7/2022).

 

"Karena itu, yang saya ingin sampaikan di sini, Saudara, apa itu darurat kebohongan, apa itu darurat korupsi, apa itu darurat kezaliman, apa itu darurat utang, apa itu darurat ekonomi dan lain sebagainya, maka kuncinya, yuk sama sama-sama kita obati semua itu dengan revolusi akhlak," sambungnya.

 

Aziz Yanuar yang merupakan pengacara Habib Rizieq Shihab mengatakan bahwa kliennya belum menentukan sikap politik jelang pemilu 2024. Aziz Yanuar juga mengatakan simpatisan masih setia dengan Habib Rizieq.

 

“Belum ada. Saat ini masih kita berpendapat atau berstatement ikut komando Imam Besar Habib Rizieq Shihab,” katanya di Jakarta Selatan, Minggu (24/7/2022).

 

Walaupun belum memutuskan sikap politik, Aziz menyebutkan bahwa kecil kemungkinan HRS bersikap netral jelang pemilu presiden 2024.

 

“Ya kalau netral juga berarti jalannya kan menyeramkan, berarti kita berhenti dulu sebentar, kemungkinan ada. Tapi mungkin yang netral kecillah,” kata Aziz Yanuar. (populis)


SANCAnews.id – Tokoh Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) Slamet Maarif tak mempersoalkan kelompoknya yang tidak diundang ke acara Gubernur Anies Baswedan bersama 59 Organisasi Masyarakat (Ormas) se Jakarta. Slamet hanya mengucapkan syukur atas suksesnya pertemuan tersebut.

 

Dirinya justeru mengaku senang Anies bisa berkumpul dengan masyarakat Jakarta. Ia berharap, Mantan Menteri Pendidikan (Mendikbud) itu bisa dilancarkan mendapat apa yang diharapkan.

 

"Alhamdulillah, semoga dimudahkan dan dilancarkan hajatnya. Ikut senang pak Anies silaturahmi dengan ormas-ormas," katanya saat dihubungi Populis.id pada Rabu (21/09/2022).

 

Slamet juga mengaku tidak dianak tirikan atau ditinggal Anies dengan tidak diundang di acara tersebut. Pasalnya, 212 dikenal salah satu elemen yang mensukseskan Pria berdarah Yogyakarta itu menjadi DKI 1. Meski tidak bertemu secara fisik, Slamet mengatakan bahwa dirinya dan Anies dekat secara doa.

 

"He he he ditinggal kemana? Biasa aja itu. Kita sih jauh di mata dekat di doa," tuturnya.

 

Saat ditanyakan apakah ada upaya Anies untuk menjaga jarak dengan simpatisan Habib Rizieq Syihab, Slamet tak memberi sanggahan. Menurutnya, sejak awal menjabat Anies sudah bersikap demikian.

 

"Kan dari awal jabat gubernur juga begitu," ucapnya.

 

Diketahui, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menggelar acara silaturahmi bersama puluhan organisasi masyarakat (ormas) yang ada di DKI Jakarta. Acara itu digelar di rumah dinas Gubernur yang berada di bilangan Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/9/2022)

 

Anies Baswedan mengatakan bahwa dirinya mengobrol cukup panjang dengan perwakilan ormas yang hadir karena sudah dianggap seperti keluarga. Selain itu, ormas-ormas ini juga yang dinilai telah menjadi partner kerja Pemprov DKI selama lima tahun.

 

"Jadi sore tadi kita ngobrol sampai maghrib, dan ngobrol santai sebagai sebuah keluarga besar yang sama-sama kemarin membantu di dalam berbagai macam kegiatan yang diselenggarakan Pemprov DKI," kata Anies kepada wartawan, Selasa (20/9/2022). (populis)


SANCAnews.id – Isu "kakak asuh" di balik kasus Ferdy Sambo diharapkan tidak mengaburkan fokus Polri dalam mengusut kasus pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J.

 

Direktur Eksekutif SARA Institute, Muhammad Wildan berujar, istilah kakak asuh atau adik asuh di tubuh Polri merupakan kewajaran karena hal itu sebagai sebutan junior ke senior dan sebaliknya.

 

"Sepengetahuan saya sebagai orang sipil biasa yang banyak bergaul dengan Anggota Polri menilai hal itu sangat bagus untuk menjaga nilai-nilai kesopanan,” ujar Wildan dalam keterangannya, Rabu (21/9).

 

Sejauh ini, kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit di Korps Bahayangkara masih solid. Karena itu, ia berharap agar setiap orang tidak gampang melempar isu yang belum tentu kebenarannnya terkait kasus pembunuhan Brigadir J.

 

"Sudahlah, jangan lempar-lempar isu yang belum tentu benar adanya. Sekarang waktunya kita melihat serta mengawasi penegak hukum, khususnya Polri dan Kejaksaan untuk menyelesaikan kasus Duren Tiga," tegasnya.

 

Mengenai isu ini, gurubesar politik dan keamanan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Muradi sudah pernah mengungkap Ferdy Sambo memiliki kakak asuh di tubuh Polri.

 

Disebutnya, sosok kakak asuhnya mencoba melobi petinggi Korps Bhayangkara untuk meringankan hukuman dalam kasus pembunuhan berencana.

 

"Kakak asuh dalam model konteks yang sudah pensiun, ada yang belum. Nah ini yang saya kira yang agak keras di dalam, kakak asuh itu punya peluang, punya powerful yang luar biasa ya," ungkap Muradi.

 

Lanjut Muradi, sosok kakak asuh itu memiliki kans membantu dan membela Ferdy Sambo agar tidak dihukum berat.

 

"Sambo berani karena dia merasa dalam posisi berada di atas angin, masih ada yang membela, makanya harus dituntaskan dulu soal orang-orang yang kemudian dianggap punya kontribusi terkait dengan posisi Sambo," kata mantan Penasihat Ahli Kapolri tersebut. (rmol)


SANCAnews.id – Kasus pembunuhan berencana terhadap Nopriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J terus bergulir dan terus masuk ke babak baru.

 

Ibarat kotak Pandora, kasus ini mengungkap banyak hal yang baru diketahui publik. Terbaru adalah dugaan adanya keterlibatan pengusaha Robert Bonosusatya dalam kasus kematian Brigadir J.

 

Nama Robert Bonosusatya tiba-tiba terseret dalam kasus ini, karena ia diduga meminjamkan pesawat jet pribadinya kepada Brigjen Hendra Kurniawan untuk mengunjungi keluarga Brigadir J di Provinsi Jambi, tak lama setelah Brigadir J dilaporkan meninggal dunia.

 

Kepergian Brigjen Hendra Kurniawan ke Jambi yang diketahui merupakan perintah dari Ferdy Sambo untuk menjelaskan kepada pihak keluarga perihal wafatnya Brigadir J.

 

Saat itu, Ferdy Sambo masih menjabat sebagai Kadiv Propam Mabes Polri, sementara Brigjen Hendra Kurniawan adalah bawahannya, yang menjabat sebagai Kepala Biro Pengamanan Internal (Karo Paminal) Divisi Propam Mabes Polri.

 

Adanya dugaan keterlibatan pengusaha Robert Bonosusatya dalam kasus ini pertama kali diungkap oleh Ketua Indonesian Police Watch Sugeng Teguh Santoso dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu.

 

"Mantan Karo Paminal Divpropam Polri itu (Brigjen Pol Hendra) bersama-sama Kombes Pol Agus Nurpatria, Kombes Pol Susanto, AKP Rifazal Samual Bripd Fernanda, Briptu Sigit, Briptu Putu dan Briptu Mika menggunakan private jet yang menurut pengacara Kamaruddin Simanjuntak sebagai milik seorang mafia berinisial RBT," kata Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso kepada Narasi TV seperti dikutip Suara Bekaci dari unggahan akun majeliskopi08.

 

Menurut Sugeng, seseorang yang berinisial RBT tersebut adalah Robert Priantono Bonosusatya yang merupakan pimpinan konsorsium judi online, dimana ‘markasnya’ tak tauh dari Mabes Polri.

 

Tudingan itu lantas langsung dibantah oleh pengusaha kaya raya tersebut. Ia mengaku mengenal Brigjen Hendra Kurniawan namun sudah lama sekali tidak berkomunikasi.

 

Lantas siapakah sosok Robert Bonosusatya? Berikut ulasannya.

 

Profil Robert Bonosusatya 

Tak banyak informasi dan referensi mengenai sosok Robert Bonosusatya. Namun ia sebenarnya bukan orang baru di lingkaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

 

Namanya pernah muncul ketika Bareskrim Polri mengusut adanya transaksi mencurigakan di rekening Komjen Budi Gunawan sebesar Rp57 miliar.

 

Kasus itu muncul ke publik pada 2015 lalu, ketika Budi Gunawan mengikuti proses uji kelayakan dan kepatutan calon Kapolri.

 

Robert sendiri diketahui merupakan mantan Komisaris Utama perusahaan jalan tol PT Citra Marga Nusaphala Tbk dan perusahaan percetakan PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk.

 

Robert juga tercatat sebagai Presiden DIrektur PT Pratama Agri Sawit sejak 2008 hingga sekarang. Perusahaan tersebut berada di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi dan bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit.

 

Dalam dunia pendidikan, Robert Bonosusatya diketahui pernah menempuh pendidikan di University of California San Francisco Foundation. (suara)


SANCAnews.id – Setelah sang atasan, Ferdy Sambo resmi dipecat dari Polri. Kini anak buahnya, Brigjen Hendra Kurniawan yang jadi sorotan.

 

Ini setelah IPW membongkar dugaan Brigjen Hendra Kurniawan pakai jet pribadi menemui keluarga Brigadir J di Jambi.

 

Yang menjadi masalah, jet pribadi itu diduga milik mafia judi konsorsium 303. Sejumlah pihak mendesak Polri menelusuri informasi dari IPW tersebut.

 

Penasihat Ahli Kapolri, anggota DPR hingga Anggota Tim Advokasi untuk Hukum dan Keadilan, Saor Siagian turut menanggapi terkait dugaan penggunaan jet pribadi oleh mantan Karo Paminal Divisi Propam Polri, Brigjen Hendra Kurniawan.

 

Brigjen Hendra Bisa Dijerat Pidana Jika Benar Gunakan Jet Pribadi Milik Mafia Judi Konsorsium 303 

Anggota Tim Advokasi untuk Hukum dan Keadilan, Saor Siagian turut menanggapi terkait dugaan penggunaan jet pribadi oleh mantan Karo Paminal Divisi Propam Polri, Brigjen Hendra Kurniawan.

 

Jet pribadi tersebut digunakan Brigjen Hendra saat menuju ke Jambi untuk menemui keluarga Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J.

 

Diketahui, menurut Indonesia Police Watch (IPW), pemilik jet pribadi T7-JAB tersebut adalah sosok berinisial RBT atau Bong yang disebut-sebut sebagai Ketua Konsorsium Judi Online Indonesia.

 

Menanggapi hal tersebut, Saor mengatakan, jika memang benar Brigjen Hendra menggunakan jet pribadi milik seseorang yang terkait dengan Konsorsium Judi, maka ia bisa dijerat pidana korupsi.

 

Pasalnya menurut Saor, penggunaan jet pribadi tersebut termasuk dalam upaya penyuapan yang dilakukan oleh pemilik judi online tersebut.

 

Dengan timbal balik berupa upaya perlindungan dari penegak hukum kepada pemilik judi online tersebut.

 

"Kalau betul bahwa pemilik dari jet pribadi ini berkaitan pada Konsorsium Judi, jelas terang benderang ini masuk pidana korupsinya. Artinya adalah ada penyuapan-penyuapan yang dilakukan oleh pelaku pemilik judi ini."

 

"Kemudian supaya penegak hukum ini melindungi dia," kata Saor dalam tayangan video di kanal YouTube Kompas TV, Selasa (20/9/2022).

 

Lebih lanjut Saor menilai jika penggunaan jet pribadi oleh Brigjen Hendra ini adalah masalah serius dan harus segera ditindaklanjuti.

 

"Menurut kita ini sangat serius, mestinya ini harus segera ditindaklanjuti, seperti pesan dari Pak Sigit, bahwa judi ini kan penyakit masyarakat," terang Saor.

 

Respons Komisi III Soal Dugaan Brigjen Hendra Kurniawan Pakai Jet Pribadi Temui Keluarga Brigadir J 

Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond J Mahesa merespons dugaan mantan Karo Paminal Divisi Propam Polri Brigjen Hendra Kurniawan menggunakan private jet saat berangkat ke Jambi pada 11 Juli 2022.

 

Desmond J Mahes mengatakan dirinya tak bisa berkomentar jauh soal dugaan penggunaan jet pribadi tersebut.

 

"Saya tidak bisa berkomentar lebih, karena sampai hari ini faktanya tuduhan-tuduhan yang harus dibuktikan dengan fakta-fakta lebih konkret," kata Desmond di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/9/2022).

 

Desmond menuturkan hingga kini belum jelas soal apakah jet pribadi atau private jet itu disewakan.

 

"Tuduhan ini apakah jet pribadi dipindahkan, atau disewa kan belum jelas juga," ujar Desmond.

 

Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond J Mahesa saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (29/8/2022).

 

Pesawat yang Dipakai Brigjen Hendra Kurniawan Diduga Milik Mafia Judi, Eks Penasihat Kapolri: Usut! 

Brigjen Hendra Kurniawan (HK) sempat menggunakan private jet saat mendatangi keluarga Brigadir J di Jambi. Belakangan disebut jet tersebut merupakan milik warga sipil yang diduga terkait judi online.

 

Brigjen Hendra Kurniawan merupakan tersangka kasus obstruction of justice kasus kematian Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat.

 

Ia saat itu menjabat sebagai Kepala Biro (Karo) Pengamanan Internal (Paminal) Polri, anak buah Ferdy Sambo.

 

Diketahui sebelumnya, Indonesia Police Watch (IPW) menyebutkan ada dua orang sipil yang menyediakan private jet tersebut. Mereka adalah seseorang berinisial RBT dan YS.

 

Eks Penasihat Kapolri sekaligus Guru Besar Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof Muradi meminta Polri untuk mengusut hal tersebut. Apalagi, dua orang sipil tersebut disebut dalam konsorsium 303.

 

"Penggunaan private jet oleh Brigjen HK adalah bagian lain yang harus juga diusut karena ada kemungkinan adanya sokongan untuk pemanfaatan private jet milik dari dua orang sipil yang diduga adalah mafia judi online," kata Muradi kepada wartawan, Senin (19/9/2022).

 

Muradi mengatakan pengusutan ini bisa dilakukan tanpa mengganggu proses penyidikan di kasus pembunuhan Brigadir J.

 

Dia bilang, pemakaian private jet oleh Brigjen Hendra merupakan bagian lain dari kasus pembunuhan Brigadir J.

 

"Namun yang harus digaris bawahi adalah penuntasan kasus pembunuhan Brigadir J adalah pintu masuk utama untuk menguraikan sejumlah kasus turunan lainnya termasuk kemungkinan untuk mendalami sejumlah hal yang berkaitan tidak langsung dengan kasus tersebut, semisal kasus judi online dan juga penggunaan private jet," jelasnya.

 

Selanjutnya, Prof Muradi juga mengharapkan kasus Brigadir J bisa segera tuntas agar tubuh Polri bisa kembali bersih. Pengusutan ini juga sebagai langkah bersih-bersih di institusi Polri.

 

"Pada konteks ini juga saya ingin tegaskan bahwa langkah Kapolri ditunggu publik agar speed penuntasan kasus pembunuhan Brigadir J dilakukan segera, agar momentum bersih-bersih di internal Polri dapat juga segera dilakukan, jangan sampai momentumnya hilang sehingga upaya merapihkan dan membersihkan Polri dari residu negatif atas kasus pembunuhan Brigadir J tidak merusak tatanan internal Polri," ujarnya.

 

"Hal ini juga termasuk juga tentang penggunaan private jet milik mafia judi oleh Brigadir HK saat ke jambi, tentang kerajaan judi 303, gaya hidup mewah sejumlah personil Polri hingga pada masih adanya anasir-anasir yang menginginkan agar proses peradilan kasus pembunuhan Brigadir J tidak berjalan dengan semestinya," tambahnya.

 

Sementara itu, Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo menyatakan bahwa kasus tersebut merupakan masih bagian materi penyidikan yang dilakukan timsus Polri.

 

"Itu bagian materi timsus, khususnya Wabprof," jelas Dedi.

 

IPW Duga Brigjen Hendra Kurniawan Pakai Jet Pribadi saat Kunjungi Keluarga Brigadir J 

Indonesia Police Watch (IPW) menemukan dugaan adanya penggunaan jet pribadi oleh mantan Karo Paminal Div Propam Polri, Brigjen Hendra Kurniawan.

 

Jet pribadi tersebut diduga digunakan oleh Hendra menemui keluarga Brigadir J di Muaro Jambi, Jambi.

 

Diketahui, pada 11 Juli 2022 lalu, Hendra mengunjungi kediaman keluarga Brigadir J bersama dengan personel Polri lainnya seperti Kombes Pol Agus Nurpatria, Kombes Pol Susanto, AKP Rifazal Samual, Bripda Fernanda, Briptu Sigit, Briptu Putu, dan Briptu Mika.

 

"Diperintah atasannya Irjen Ferdy Sambo, yang saat itu Kadiv Propam Mabes Polri ke Jambi menemui keluarga Brigadir Yosua guna memberikan penjelasan atas kematian ajudannya tersebut," kata Ketua IPW, Sugeng Teguh Santoso dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunnews, Minggu (19/9/2022).

 

Sugeng menyebut pihaknya telah mengidentifikasi jenis jet pribadi yang digunakan Hendra dan personel Polri lainnya saat terbang ke kediaman keluarga Brigadir J.

 

Jenis jet yang dimaksud adalah T7-JAB yang menurut informasi dari IPW dimiliki oleh sosok berinisial RBT alias Bong yang disebut sebagai Ketua Konsorsium Judi Online Indonesia.

 

"Dalam catatan IPW adalah Ketua Konsorsium Judi Online Indonesia yang bermarkas di Jalan Gunawarman, Jakarta Selatan, yang hanya berjarak 200 meter dari Mabes Polri," jelas Sugeng.

 

Selain itu, pada penemuan yang sama, Sugeng menyebut jet pribadi itu juga digunakan oleh AH dan YS yang namanya tercatat dalam isu Konsorsium 303 untuk wilayah DKI Jakarta.

 

"Private jet T7-JAB diketahui sering dipakai oleh AH dan YS untuk penerbangan bisnis Jakarta-Bali," kata Sugeng.

 

Berdasarkan temuannya ini, Sugeng mendesak agar Tim Khusus (Timsus) bentukan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo atau Bareskrim Polri mengusut keterlibatan RBT, AH, dan YS dengan Ferdy Sambo terkait kasus pembunuhan Brigadir J.

 

Ditambah, kata Sugeng, desakan pengusutan Konsorsium 303 yang diduga dinaungi oleh Ferdy Sambo. Hal ini perlu dilakukan lantaran Sugeng menduga ketiga orang yang merupakan kalangan sipil ini memiliki kaitan dengan pemberian dukungan soal pencalonan calon presiden tertentu pada Pemilu 2024.

 

"Di mana Irjen Ferdy Sambo ingin menjadi Kapolrinya," katanya.

 

Kemudian, Sugeng juga meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Jenderal Listyo Sigit untuk membongkar peran Ferdy Sambo ketika menjabat sebagai Kasatgassus Merah Putih, serta dugaan penerimaan gratifikasi fasilitas penggunaan pesawat jet pribadi oleh Hendra dkk yang disebut merupakan tindak pidana korupsi.

 

"Karenanya KPK juga harus memeriksa terkait gratifikasi pesawat jet," pungkas Sugeng.

 

Seperti diketahui, Brigjen Hendra Kurniawan adalah salah satu dari tujuh orang yang ditetapkan sebagai tersangka terkait adanya obstruction of justice dalam kasus pembunuhan Brigadir J.

 

Selain Brigjen Hendra Kurniawan, adapula nama Ferdy Sambo, Kombes Agus Nurpatria, AKBP Arif Rahman, Kompol Baiquni Wibowo, Kompol Chuck Putranto, dan AKP Irfan Widyanto.

 

Mereka diduga melanggar Pasal 49 Juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 Ayat (1) Juncto Pasal 32 Ayat (1) UU ITE dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP. (tribun)

SancaNews

{picture#} YOUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Diberdayakan oleh Blogger.