Kapolri Tidak Kecam Penembak Tiga Anggota Polda Lampung Yang Tewas?
by : Joharuddin Firdaus/Pemeharti Politik Sosial dan Budaya
TIGA anggota Polisi Daerah (Polda) Lampung tewas ditembak
saat menggrebek judi sabung ayam. Tiga anak bangsa ini dipastikan meninggal
dunia saat melakukan tugas resmi sebagai polisi. Bukan mereka sedang melakukan
kegiatam yang berkaitan dengan kepentingan pribadi, kepentingan keluarga dan
kepentingan kelompok. Untuk sementara dua oknum anggota TNI diduga yang
melakukan penembakan kepada 17 polisi yang menggrebek lokasi judi ayam.
Kapolri Pak Jendral Listyo Sigit Prabowo dari Serang Banten
menyatakan “bersama dengan Panglima TNI Pak Jendral Agus Subianto akan mengawal
investigasi kasus yang menewaskan tiga anggota Polda Lampung. Tujuannya untuk
menuntaskan hal-hal yang ditemukan di lapangan. Sementara di tingkat provinsi
Kepolda Lampung dan Komandan Korem 043/Garuda Hitam juga terus melakukan
investigasi bersama”.
Kapolri juga menyatakan bahwa “selalu mendorong seluruh
anggota polsi untuk meningkatkan samangat dan bekerja dengan baik. Selalu
bekerja dengan penuh semangat. Namun anggota polisi supaya selalu lebih
hati-hati dan menjaga sinergitas, dan soliditas untuk kepentingan rakyat”.
Masyarakat Indonesia, dan mungkin saja dunia dibuat bingung,
kaget, sedih, bahkan mungkin marah kepada Kapolri setelah medengar pernyataan
Pak Jendral Sigit. Benar-benar pernyataan sikap dari Kapolri yang kering dan
hampa. Tidak bemakna, tidak berisi dan tidak berkelas sebagai Kapolri. Rakyat
pasti marah karena anggota polisi yang meninggal dalam tugas tersebut dibiayai
sejak mulai dari pendidikan sampai meninggal itu dengan uang dari pajak rakyat.
Pernyataan yang tidak menggambarkan pesan Pak Jendral Sigit
sebagai seorang hebat. Bukan sebagai tokoh yang sedang memimpin Kepolisian
Negara Republik Indonesia (Polri). Seakan-akan yang mereka meninggal itu bukan
anak buah Pak Jendral Sigit. Seakan-akan anggota Polisi Lampung yang meninggal
itu bukan anggota polisi. Jangan begitulah Pak Jendral Sigit, sebab tiga
anggota Polisi itu punyak bapak, punya ibu, punya kakak, punya adik, punya
istri dan punya anak. Keluarganya pasti sedih Pak Kapolri.
Kapolri melakukan kordinasi dengan Panglima TNI itu standar
baku kalau ada gesekan di level bawah antara anggota Polisi dengan TNI dil
lapangan. Dinaikkan pangkat anumerta satu tingkat lebih tinggi, itu juga wajib
hukumnya. Apalagi untuk anggota yang gugur saat melakukan tugas di lapangan.
Semua Kapolri dipastikan akan melakukan langkah-langkah sama dengan yang Pak
Jendral Sigit lalukan itu.
Semua yang sudah Kapolri Pak Sigit lakukan bersama Panglima
TNI itu adalah tahapan-tahapan yang harus secara oficial. Namun yang sangat
diperlukan dari Pak Sigit adalah sentuhan kemanusiaan kepada anggota tiga
Polisi yang meninggal dunia tersebut bersama keluarganya. Kejadian penembakan
tiga anggota Polda Lampung ini bukan saja bikin rakyat marah. Namun mungkin
semua anggota TNI ikut juga marah, karena sangat memalukan dan mencoreng muka
TNI.
Pantasnya itu Pak Kapolri Sigit bikin dulu pernyatakan sikap
bahwa “intitusi Polri turut atau sangat prihatin dan belasungkawa yang mendalam
dengan kejadian tersebut. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga untuk
kita semua sebagai bangsa. Diharapkan kejadian ini tidak terulang lagi pada
waktu-waktu mendatang. Bukan saja institusi Polri yang merugi, namun yang rugi
adalah bangsa Indonesia”.
Pak Kapolri Jendral Sigit harusnya jangan takut untuk
menyatakan sikap mengecam kejadian ini. Jangan juga takut kehilangan jabatan
sebagai Kapolri. Pasti Pak Presiden Prabowo Subianto mendukung Pak Sigit soal.
Namun kalau sampai kehilangan jabatan sebagai Kapolri juga, maka bintangnya Pak
Sigit tidak mungkin turun ke bintang tiga. Toh, Pak Sigit sudah menjabat
Kapolri selama empat tahun lebih. Bahkan menjadi Kapolri dengan masa jabatan
terlama sejak reformasi 1998.
Kapolri Pak Jendral Sigit yang baik dan hebat. Kejajdian yang
menimpa tiga anggota Polsek Nagara Batin, Polres Way Kanan, Polda Lampung ini
bikin semua anggota Polri dari sabang sampai Merauke resah dan sedih.
Khawatirnya anggota polisi menjad takut untuk bertindak menghadapi gangguan
keamanan dan penyakit masyarakat. Khawatir kalau bakal terulang anggota Polda
kembali.
Ayo Pak Jendral Sigit, belum terlambat kooo. Bikinlah
pernyataan sikap yang isinya mengecam kejadian penembakan terhadap tiga anggota
Polda Lampung yang tewas belum lama ini. Pendek saja kelimatnya. Bilang saja
begini “Polri sangat prihatin, turut belasungkawa yang mendalam serta mengecam
dengan kejadian tersbut”. Jangan ikuti kelukuan Mulyono yang tidak mempunyai
rasa empati terhadap kematian anak bangsa, seperti kejadian penembakan di KM 50
dulu itu. (*)