Dua Pria Berciuman
JAKARTA — Aksi unjuk rasa mahasiswa yang
menolak UU TNI dan RUU Polri mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk
aktivis dan masyarakat sipil. Dalam aksi unjuk rasa yang berlangsung di
sejumlah titik strategis itu, mahasiswa menyuarakan kekhawatirannya terhadap
potensi militerisasi dalam pemerintahan sipil.
Dukungan terhadap demonstrasi ini datang dari pemilik akun
Thread, Ruhul Maani, yang mengapresiasi keberanian para mahasiswa dalam menyuarakan
aspirasinya.
"Berani sekali adik-adik mahasiswa ini ya," ujar
Ruhul dalam unggahan di media sosial Threads.
Ruhul juga membagikan foto coretan dinding berisi pesan
protes yang dibuat oleh para demonstran.
Dinding yang disemprot cat merah bertuliskan “Prabowo (cinta)
Teddy”.
Pada gambar pertama, terlihat sebuah tembok yang telah
dicoret dengan cat semprot berwarna merah bertuliskan "Prabowo (love)
Teddy".
Sementara di bagian atasnya, ada coretan lain berwarna hitam
yang sebagian tertutup tanaman hijau, dengan kata-kata "POLISI" dan
"TNI."
Coretan ini diduga sebagai bentuk sindiran terhadap
pemerintah dan dugaan kedekatan militer dengan kekuasaan.
Gambar kedua menampilkan pagar besi dengan tembok putih yang
juga menjadi sasaran aksi vandalisme.
Pada tembok tersebut, terdapat mural berwarna hitam yang
menggambarkan dua sosok pria yang diduga Jokowi dan Prabowo sedang berciuman.
Sementara itu, Kader PDI Perjuangan, Ferdinand Hutahaean dan
Kader PKB Umar Hasibuan ikut mengomentari. “Oh My God,” tulis Ferdinand.
Aktivis lain, Ahyar Stone turut menyampaikan apresiasi kepada
mahasiswa yang turun ke jalan.
Ia menilai aksi ini sebagai perjuangan melawan pemerintahan
yang dianggap semakin otoriter.
"Untuk mahasiswa peserta demo, terima kasih telah
mewakili kami yang tak bisa ikut demo melawan rezim orba jilid 2. Doa terbaikku
untuk mahasiswa. Bukan untuk penguasa," kata Ahyar.
Demonstrasi ini sendiri berlangsung di tengah meningkatnya
polemik terkait revisi UU TNI dan RUU Polri, yang dinilai oleh banyak pihak
berpotensi memperbesar peran militer dalam ranah sipil.
Sejumlah mahasiswa melakukan aksi vandalisme dengan mencoret
tembok dan pagar menggunakan berbagai pesan sindiran, sebagai bentuk protes
terhadap kebijakan pemerintah.
Diketahui, aksi unjuk rasa menolak pengesahan revisi
Undang-Undang TNI di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, berujung
ricuh pada Kamis (27/3/2025) malam.
Aparat kepolisian terpaksa membubarkan massa menggunakan
water cannon sekitar pukul 18.30 WIB setelah peringatan agar demonstran
membubarkan diri tak diindahkan.
Semprotan air bertekanan tinggi membuat ratusan peserta aksi
berhamburan. Sebagian melarikan diri ke kawasan Senayan Park (Spark) dan Gelora
Bung Karno (GBK) untuk menghindari kejaran petugas.
Sebelum dibubarkan, demonstran sempat menutup arus lalu
lintas di Jalan Gatot Subroto arah Palmerah. Massa juga melakukan aksi
provokasi dengan melempar petasan, kembang api, hingga batu ke arah petugas
keamanan yang berjaga di sekitar lokasi.
Untuk mengantisipasi gangguan keamanan, sebanyak 1.824
personel gabungan dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, TNI, serta
Pemprov DKI Jakarta dikerahkan di sekitar Gedung DPR RI.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Polisi Susatyo Purnomo
Condro, menegaskan bahwa langkah tegas dilakukan demi menjaga ketertiban umum.
"Dalam rangka pengamanan aksi penyampaian pendapat dari
mahasiswa dan beberapa aliansi, kami melibatkan 1.824 personel gabungan,"
kata Susatyo. (fajar)