Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran
Rakabuming Raka/Net
JAKARTA — Mayoritas pakar ekonomi menilai
kondisi ekonomi Indonesia mengalami kemerosotan dalam 100 hari pertama
pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Survei yang dilakukan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan
Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI)
menunjukkan, 55 persen pakar ekonomi menilai kondisi ekonomi nasional saat ini
lebih buruk dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
"Bahkan, tujuh pakar menilai kondisinya jauh lebih
buruk,” tulis LPEM UI dalam laporan 'LPEM Economic Experts Survey Semester I 2025'
yang dikutip pada Senin 24 Maret 2025.
Survei ini melibatkan 42 pakar ekonomi dari berbagai latar
belakang, termasuk akademisi, peneliti, analis dari lembaga think tank, pelaku
sektor swasta, serta organisasi multinasional. Para responden berasal dari
dalam dan luar negeri guna memberikan perspektif yang lebih luas terhadap
kondisi ekonomi nasional.
Prospek Ekonomi Dinilai
Pesimistis
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa sebagian besar
pakar pesimis terhadap pertumbuhan ekonomi dalam periode mendatang.
“Sebanyak 23 dari 42 pakar memperkirakan pertumbuhan ekonomi
akan lebih rendah dari angka saat ini, meskipun tidak ada responden yang
menganggap kontraksi akan jauh lebih kuat,” demikian bunyi laporan itu.
Sementara itu, lebih dari seperempat responden memperkirakan
perubahan yang tidak signifikan, sementara hanya enam pakar yang memproyeksikan
adanya pertumbuhan ekonomi pada periode berikutnya.
Kritik Kebijakan Fiskal
dan Moneter
Selain menyoroti kondisi ekonomi, survei ini juga menilai
efektivitas kebijakan fiskal dan moneter pemerintahan Prabowo-Gibran. Hasilnya,
mayoritas pakar menilai kebijakan fiskal yang diterapkan saat ini tidak efektif
dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan.
“Sebanyak 28 persen atau 12 dari 42 responden menilai
kebijakan fiskal sangat tidak efektif, sedangkan 60 persen atau 25 dari 42
pakar menilai sedikit tidak efektif,” kata laporan tersebut.
Di sisi lain, kebijakan moneter juga dinilai belum memberikan
dampak berarti. Sebagian besar pakar, atau 38 persen dari responden, memandang
kebijakan moneter pemerintahan Prabowo tidak memiliki efek.
"Sementara itu, 13 responden atau 31 persen menganggap
kebijakan moneter sedikit tidak efektif," tulis LPEM UI.
Skeptis terhadap Arah
Kebijakan Ekonomi
Secara keseluruhan, hasil survei menunjukkan tingkat
skeptisisme yang tinggi terhadap kebijakan ekonomi dalam 100 hari pertama
pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Arah kebijakan ekonomi pemerintahan baru dalam 100 hari
pertamanya secara luas dinilai tidak efektif,” demikian pernyataan dalam
laporan tersebut.
Dari 42 responden, sebanyak 36 pakar ekonomi menilai
kebijakan ekonomi saat ini secara negatif.
Rinciannya, 21 responden menyebut kebijakan tidak efektif, 15
menilai sangat tidak efektif, sementara hanya dua responden yang menilai
sedikit efektif dan empat lainnya bersikap netral.
Tidak ada satu pun responden yang menganggap kebijakan
ekonomi pemerintahan Prabowo-Gibran sangat efektif. (rmol)