Dokter Eva Sri Diana -dok-Twitter 


JAKARTA — Tim medis dan demonstran di Malang, Jawa Timur, mendapat tindakan represif dari aparat keamanan. Hal itu disorot Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia, dr. Eva Sri Diana.

 

Ia mengenang kejadian pada 2019, saat sejumlah massa berdemonstrasi mendukung Prabowo usai Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

 

“Pak @prabowo ini persis sekali tahun 2019. Saat kami berjuang untuk Bapak, turun ke jalan,” kata Eva dikutip dari unggahannya di X, Senin (24/3/2025).

 

Saat itu, Eva mengatakan masyarakat diperlakukan semena-mena. Mereka yang dirawat ditarik paksa aparat.

 

“Rakyat dan mahasiswa juga diperlakukan semena-mena seperti ini oleh rezim Mulyono,” tuturnya.

 

“Teman dan mahasiswa yang terluka, saat kami tim medis sedang menangani, Malah ditarik paksa, dibawa oknum aparat, tanpa kasihan padahal sudah luka berdarah-darah,” tambahnya.

 

Tak jarang, kata dia, dirinya tarik menarik dengan aparat.

 

“Waktu itu saya dkk tim medis sering tarik-tarikan pasien dengan oknum aparat,” ucapnya.

 

Hal itu bagi Eva meninggalkan luka di hatinya. Ia pun menanyakan ke Prabowo apakah sudah lupa dengan itu.

 

“Please...sakit sekali rasanya hati kami waktu itu. Jauh lebih sakit dari tubuh kami yang lelah dan terluka. Kami belum bisa lupa, mengapa Bapak bisa lupa begitu cepat?” imbuhnya.

 

“Atau dulu Bapak sedang pura-pura berjuang bersama kami seperti rumor yang beredar, bahwa pilpres ini hanya skenario gantian saja? Semoga rumor ini salah,” sambungnya.

 

Ia pun berharap agar Prabowo tergerak hatinya. Sehingga Indonesia tidak benar-benar gelap.

 

“Semoga terketuk hati Bapak, kembali bersama kami rakyat yang berharap banyak padamu. Jangan biar #indonesiagelap,” pungkasnya. (fajar)


Label:

SN

{picture#} YOUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Diberdayakan oleh Blogger.