SANCAnews.id – Sikap PDIP menolak kehadiran Tim U-20 Israel di
Piala Dunia U-20 yang akan digelar di Indonesia dinilai hanya sebatas jualan
politik menjelang Pemilu 2024.
Pasalnya, penolakan dari kader
PDIP seperti Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dan Gubernur Bali, I Wayan
Koster, kontras dengan sikap menerima delegasi Israel pada Sidang Majelis
ke-144 Inter-Parliamentary Union (IPU) di Bali pada 2022 lalu.
“Penolakan itu kental nuansa
politik, karena ada kesan berbeda dengan sikap PDIP selama ini yang cenderung
terbuka pada aspek relasi internasional,” kata pengamat politik jebolan UIN
Syarif Hidayatullah, Dedi Kurnia Syah, kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu
(29/3).
Menurut Dedi, meskipun Israel
tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia, tetapi untuk Piala Dunia
U-20 tidak terkait langsung dengan itu. Ditegaskan Dedi, kompetisi Piala Dunia
U-20 tidak terkait langsung dengan sistem politik negara, karena itu merupakan
wewenang FIFA.
“Sehingga, menolak Israel
bertanding di gelaran FIFA merupakan sikap kurang bijak. Jika alasannya soal
pengakuan negara, maka cukup dengan memberi syarat misalnya menolak pengibaran
bendera negara Israel atau simbol-simbol negara Israel,” jelas Dedi.
Selain itu, Dedi menyebut
Indonesia menjalankan sistem politik bebas aktif dalam kebijakan internasional.
Lagipula, warga Indonesia sering berkunjung ke Israel.
“Jika mengacu pada aspek penolakan politisi PDIP, harusnya mereka juga mengecam warga kita yang datang ke sana, bisa dimulai dengan mengecam Yahya Staquf. Jika tidak, maka PDIP sedang menjadikan isu ini untuk propaganda politik,” pungkasnya. (*)