SANCAnews.id – Belakangan ini ramai menjadi perbincangan soal sosok
kakak asuh Ferdy Sambo yang diduga menjadi bekingan eks Kadiv Propam itu.
Akhirnya Polri memberikan
keterangan terkait benar tidaknya spekulasi sosok kakak asuh yang ramai beredar
tersebut. Hal itu disampaikan melalui Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi
Prasetyo.
Ia menyebutkan, belum ada
informasi lebih jauh mengenai kebenaran dari dugaan tersebut. "Belum
terinformasi," ujar Dedi saat dikonfirmasi wartawan, dikutip dari laman
VIVA Jumat, 22 September 2022.
Diketahui, istilah kakak asuh ini
merujuk ke anggota Polri yang masih bertugas dan menjadi petinggi di Korps
Bhayangkara hingga yang sudah pensiun. Dugaan kakak asuh ini sebelumnya
diungkap oleh Mantan Penasehat Ahli Kapolri era Jenderal Idham Azis.
Sebelumnya, Muradi yang juga
merupakan Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran (Unpad)
mengungkap adanya sosok kakak asuh dalam perjalanan karir eks Kadiv Propam
Polri, Ferdy Sambo. Sosok kakak asuh tersebut berupaya membantu Sambo agar
mendapatkan vonis ringan di kasus pembunuhan Brigadir J. "Dia punya kakak asuh
yang sudah pensiun yang ngasih jabatan Kadiv Propam.
Karir Sambo melejit kan dari
senior itu," ujar Muradi dalam keterangannya kepada wartawan, Senin 19
September 2022. Kendati demikian, Muradi tak membeberkan secara rinci identitas
kakak asuh Ferdy Sambo yang dimaksud.
Dia hanya mengatakan kakak asuh
itu memberikan jabatan Kadiv Propam kepada Sambo pada 2019. Melejitnya karir
Sambo di kepolisian diduga karena campur tangan sosok tersebut.
Oleh sebab itu, Muradi meminta
kepada tim khusus (timsus) bersama bareskrim Polri untuk menyelidiki peran dari
sosok kakak asuh yang membantu Ferdy Sambo di kasus pembunuhan berencana
Brigadir J. "Kalau enggak ini akan masuk angin.
Dia akan mendapat hukuman yang
minimal, padahal kan dia yang merusak semuanya. Harusnya dia hukumannya minimal
20 tahun, bisa seumur hidup atau hukuman mati," kata Muradi.
Selain itu, Muradi juga
menyinggung soal adanya perubahan keterangan Ferdy Sambo dalam Berita Acara
Pemeriksaan (BAP). Perubahan keterangan Sambo itu, kata Muradi, dirinya
menyebut tidak ikut menembak Brigadir J.
Pasalnya, berdasarkan keterangan
saksi di tempat kejadian perkara (TKP) yakni Bripka Ricky Rizal (RR) dan
Bharada Richard Eliezer (E) mengatakan bahwa Sambo ikut menembak Brigadir J di
rumah dinasnya pada Jumat 8 Juli 2022 lalu.
Dengan upaya tersebut, lanjut
Muradi, dapat disimpulkan bahwa Sambo masih memiliki power di kepolisian.
"Jadi kalau dia enggak
menembak, dia hanya menyuruh, hukumannya enggak hukuman mati. Jadi cuma 5
sampai 10 tahun. Dia masih ada backup, masih didukung oleh orang-orang yang ada
di lingkaran dia," tutur Muradi.
Sebagai informasi, Brigadir
Nofryansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J tewas karena ditembak di rumah
dinas Ferdy Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan pada 8 Juli
2022. Dalam kasus ini, penyidik telah menetapkan lima orang sebagai tersangka.
Kelima tersangka itu ialah Ferdy
Sambo, Bharada E, Bripka RR, Kuat Ma'ruf hingga Putri Candrawathi. Mereka
berlima dijerat dengan Pasal Pembunuhan Berencana yakni Pasal 340 juncto 338
juncto 55 dan 56 KUHP. (tvone)